Download Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat PDF

TitleAnalisa Perbandingan Penggunaan Bekisting Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat
File Size105.7 KB
Total Pages5
Document Text Contents
Page 1

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 D-67

Abstrak— Pekerjaan bekisting memberikan kontribusi yang
cukup besar dalam hal proporsi biaya pekerjaan beton.
Produktifitas dan siklus dari pekerjaan bekisting juga
mempengaruhi waktu pekerjaan beton. Oleh karena itu, dalam
merencanakan pekerjaan bekisting harus ditentukan jenis
bekisting yang terbaik dan sesuai dengan kondisi proyek. Tujuan
dari penelitian ini adalah membandingkan penggunaan bekisting
semi konvensional dengan bekisting table form system untuk low
rise building dan high rise building.

Masing-masing bekisting untuk kedua tipe gedung dihitung
waktu pelaksanaan dan biaya pelaksanaan untuk low rise
building dan high rise building. Dari hasil perhitungan akan
dilakukan analisa perbandingan dengan menggunakan metode
matriks evaluasi untuk menentukan bekisting mana yang lebih
baik untuk low rise building dan high rise building berdasarkan
kriteria biaya dan waktu pelaksanaan. Digunakan 5 ( lima )
skenario perbandingan antara biaya dan waktu yaitu 30%:70%,
40%:60%, 50%:50%, 60%:40%, 60%:40% dan 70%:30%.
Gedung Sekolah Anak Panah digunakan sebagai contoh kasus
low rise building. Hotel Ibis digunakan sebagai contoh kasus high
rise building.

Dari analisa perbandingan pada gedung Sekolah Anak
Panah didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1, 2
dan 3 adalah bekisting semi konvensional, dan skenario 4 dan 5
adalah bekisting sistem table form. Dari analisa pada gedung
Hotel Ibis didapatkan bekisting yang terbaik untuk skenario 1
dan 2 adalah bekisting semi konvensional, skenario 3 adalah
keduanya, dan skenario 4 dan 5 adalah bekisting sistem table
form.


Kata Kunci— bekisting, bekisting semi konvensional, bekisting

Table Form System, biaya, waktu.



I. PENDAHULUAN


ALAM pekerjaan konstruksi beton, ada tiga komponen
utama yang harus direncanakan dengan matang karena

akan mempengaruhi keberhasilan suatu pekerjaan struktur.
Ketiga komponen tersebut adalah campuran beton, penulangan
beton dan bekisting. Komponen bekisting pada
pelaksanaannya juga membutuhkan biaya yang besar [1]. Oleh
karena itu perencanaannya harus dipertimbangkan faktor
ekonomisnya.

Pekerjaan bekisting juga memberikan pengaruh dalam hal
durasi pelaksanaan dalam pekerjaan beton karena siklus
pekerjaan bekisting beririsan dengan pekerjaan beton [2].

Semakin cepat produktifitas pekerjaan bekisting maka akan
semakin cepat pula pekerjaan beton terselesaikan.

Seiring berkembangnya teknologi dalam dunia konstruksi
di Indonesia, teknologi cetakan beton atau bekisting juga
berkembang dengan banyaknya alternatif metode. Diantaranya
yang beredar di Indonesia antara lain Paschal, KHK, MESA
dan PERI [3]. Teknologi bekisting berkembang dari sistem
tradisional (rakit di tempat) menjadi sistem prafabrikasi.

Untuk gedung High Rise Building yang tipikal bentuk
strukturnya, bekisting sistem cenderung akan lebih ekonomis
karena volume pengecoran akan besar. Untuk gedung Low
Rise Building yang volume pengecorannya cenderung lebih
sedikit dan bentuk strukturnya cenderung kurang tipikal,
bekisting semi konvensional akan cenderung lebih ekonomis.
Kecenderungan tersebut perlu diteliti. Oleh karena itu, dalam
penelitian ini dilakukan analisa perbandingan bekisting
konvensional dengan bekisting sistem table form pada gedung
High Rise Building dan gedung Low Rise Building.




II. METODA PENELITIAN

A. Data Penelitian

Data-data yang diperlukan dalam penelitian ini terdapat
dalam Tabel 1.


Tabel 1.

Jenis dan Sumber Data Penelitian
No Data Sumber data Jenis data
1 Gambar perencanaan

struktur
Proyek yang
ditinjau

Sekunder

2 Penjadwalan proyek Proyek yang
ditinjau

Sekunder

3 Harga material Proyek yang
ditinjau

Sekunder

4 Spesifikasi dan
perencanaan bekisting
semi konvensional

Proyek yang
ditinjau

Sekunder

5 Spesifikasi dan
perencanaan bekisting
sistem table form

Studi literatur Sekunder


B. Tahapan Penelitian

Langkah-langkah yang akan digunakan dalam penelitian
terdapat dalam diagram alir pada Gambar 1.

Analisa Perbandingan Penggunaan Bekisting
Semi Konvensional Dengan Bekisting Sistem

Table Form Pada Konstruksi Gedung Bertingkat
Yevi Novi Dwi Saraswati, Retno Indryani

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111

E-mail: [email protected]

D

Page 2

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 D-68

Gambar. 1. Diagram alir penelitian.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Bekisting Semi Konvensional
1. Metode pelaksanaan

Penggunaan berulang material bekisting ditujukan untuk
memperoleh biaya yang ekonomis. Apalagi pekerjaan
bekisting hanya sebuah kontruksi sementara. Komponen
bekisting semi konvensional dan jumlah pemakaian berulang
material dapat dilihat dalam Tabel 2.

Urutan pekerjaan untuk bekisting semi konvensional
adalah sebagai berikut.

1. Setelah scaffolding terpasang, balok gelagar
(memanjang) berukuran 6/12 dipasang di atas U-head
dengan jarak antar balok sama dengan lebar scaffolding
yaitu 1.25 m.

2. Di atas balok memanjang dipasang balok suri
(melintang) berukuran 6/12 dengan jarak antar balok
30 cm.

3. Kemudian dipasang bottom form bekisting yang terbuat
dari plywood 12 mm sesuai dengan ukuran balok.

4. Tulangan balok dipasang setelah bottom form.

5. Setelah tulangan balok terpasang, kemudian dipasang
side form bekisting balok dan Balok pengaku (balok
pengaku) berukuran 5/7.

6. Untuk bekisting pelat dipasang setelah pemasangan
bekisting balok. Dimulai dari pemasangan balok
gelagar berukuran 6/12 diatas U-head sejarak 1,25 m.

7. Kemudian balok suri berukuran 6/12 dipasang sejarak
30cm.

8. Selanjutnya dapat dipasang plywood 12 mm sesuai
ukuran pelat.

9. Penulangan pelat dapat dipasang setelah plywood untuk
pelat terpasang.

10. Pekerjaan pengecoran dapat dilakukan jika pekerjaan
penulangan sudah selesai.

11. Pembongkaran bekisting dapat dilakukan 7 hari setelah
pengecoran.


Tabel 2.

Material bekisting semi konvensional beserta pengulangan pemakaian
No. Nama Pengulangan
1 Scaffolding
· Base jack Berulang-ulang
· Main Frame Berulang-ulang
· Ladder Frame Berulang-ulang
· Cross Brace Berulang-ulang
· Cross Head Jack/U-head Berulang-ulang
· Joint Pin Berulang-ulang
2 Plywood 12mm 5 kali pakai
3 Kayu 5 kali pakai
· Kayu 5/7 5 kali pakai
· Kayu 6/12 5 kali pakai
4 Paku 1 kali pakai

Sumber : wawancara lapangan, 2012


2. Proyek low rise building
Perhitungan durasi total pekerjaan bekisting dimulai dari

perhitungan durasi masing-masing pekerjaan. Durasi tersebut
diperoleh dari hasil perkalian volume pekerjaan dengan
produktivitas pekerja. Perhitungan durasi masing-masing
pekerjaan dapat dilihat dalam Tabel 3.

Setelah didapat durasi masing-masing pekerjaan,
selanjutnya penjadwalan disusun dengan metode bar chart.
Penjadwalan pekerjaan bekisting didasarkan pada perputaran
material bekisting. Material baru hanya ada pada lantai 1 zona
1 dan zona 2 yang selanjutnya dipindah ke lantai berikutnya.
Pekerjaan bekisting lantai 2 dapat dimulai setelah bekisting
pada lantai 1 selesai dibongkar. Begitu pula pekerjaan
bekisting lantai 3 dan 4 dapat dimulai setelah bekisting pada
lantai sebelumnya selesai dibongkar. Dari penjadwalan
didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah 119 hari.

Biaya total pekerjaan bekisting didapat dari material, upah
(pasang dan bongkar) dan sewa alat. Biaya total material
bekisting tidak didapat dari semua kebutuhan material
bekisting melainkan hanya biaya material baru saja, karena
material bekisting bisa bersifat pakai ulang. Besarnya biaya
pekerjaan bekisting dapat dilihat dalam Tabel 4.






Bekisting
Semi

Konvensional

Metode
Pelaksanaan

Waktu
Pelaksanaan

Rencana
Biaya

Metode
Pelaksanaan

Waktu
Pelaksanaan

Rencana
Biaya

Perbandingan Antara
Kedua Tipe Bekisting

Bekisting
Sistem Table

Form

Kesimpulan

Tujuan

Permasalahan

Latar Belakang

Analisa Data

Low Rise
Building

High Rise
Building

Bekisting
Semi

Konvensional

Metode
Pelaksanaan

Waktu
Pelaksanaan

Rencana
Biaya

Metode
Pelaksanaan

Waktu
Pelaksanaan

Rencana
Biaya

Perbandingan Antara
Kedua Tipe Bekisting

Bekisting
Sistem Table

Form

Page 3

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 D-69

Tabel 3.
Durasi masing-masing pekerjaan

No. Pekerjaan Lantai
1 2 3 4

Z
o

n
a

1


Z
o

n
a

2


Z
o

n
a

1


Z
o

n
a

2


Z
o

n
a

1


Z
o

n
a

2


Z
o

n
a

1


Z
o

n
a

2


1 Pemasangan
bekisting Balok

12 10 12 10 12 10 12 11

2 Pemasangan
bekisting Pelat

12 11 12 11 12 11 12 11

3 Pekerjaan
penulangan balok

5 5 5 5 5 5 5 5

4 Pekerjaan
penulangan pelat

2 2 2 2 2 2 2 2

5 Pengecoran beton 2 2 2 2 2 2 2 2
6 Waktu tunggu

beton
8 8 8 8 8 8 8 8

7 Pembongkaran
bekisting

3 3 3 3 3 3 3 3




Tabel 4.
Biaya pekerjaan bekisting semi konvensional pada gedung Sekolah Anak

Panah

No. Nama Biaya
1 Balok

· Material + upah
bongkar-pasang

Rp 312,999,271

· Sewa alat Rp 329,988,000

2 Pelat

· Material + upah
bongkar-pasang

Rp 181,129,668

· Sewa alat Rp 118,720,000

Total biaya Rp 942,836,939



3. Proyek high rise building
Konsep pekerjaan bekisting pada Hotel Ibis antara lain

material baru yang disediakan hanya pada Lantai Parkir (P1),
Lantai 1 dan lantai 2. Material lantai Parkir (P1) akan
digunakan kembali untuk Lantai Mezanin dan Lantai Dasar
karena bentuk strukturnya yang tipikal. Pemasangan bekisting
pada Lantai Mezanin dan Lantai Dasar harus menunggu lantai
sebelumnya. Lantai 1 digunakan kembali untuk Lantai ganjil
dan Lantai Atap. Lantai 2 digunakan kembali untuk Lantai
genap.

Penjadwalan didapat dari durasi masing-masing pekerjaan
yang selanjutnya disusun dengan metode bar chart. Dari
penjadwalan didapat durasi total pekerjaan bekisting adalah
211 hari. Dan besarnya biaya pekerjaan bekisting dapat dilihat
dalam Tabel 5.

Tabel 5.
Biaya pekerjaan bekisting semi konvensional pada gedung Hotel Ibis

No. Nama Biaya
1 Balok

· Material + upah
bongkar-pasang

Rp 538,018,587

· Sewa alat Rp 390,730,000

2 Pelat

· Material + upah
bongkar-pasang

Rp 332,513,573

· Sewa alat Rp 151,946,000

Total biaya Rp 1,413,208,161

B. Bekisting Sistem Table form
1. Metode Pelaksanaan

Komponen bekisting semi konvensional dan jumlah
pemakaian berulang material dapat dilihat dalam Tabel 6.


Tabel 6.

Material beserta pengulangan pemakaian
bekisting sistem table form

No. Nama Pengulangan

1 Plywood 12 mm 5 kali pemakaian

2 Girder GT 24 Berulang-ulang

3 Steel waler Berulang-ulang

4 Beam braket Berulang-ulang

6 PEP support Berulang-ulang

5 TSS torx screw Berulang-ulang

4 Swivel Head SRU Berulang-ulang

3 Hook strap Berulang-ulang

Sumber : wawancara lapangan, 2012


Urutan pekerjaan untuk bekisting semi konvensional
adalah sebagai berikut.

1. Perakitan material dilakukan di site.
2. Girder GT 24 sebagai balok memanjang dengan jarak

antar balok sama dengan lebar scaffolding yaitu 1.25
m. Dipasang setelah perancah (PEP 30)

3. Di atas balok memanjang dipasang balok melintang
berukuran 6/12 dengan jarak antar balok 30 cm.

4. Bottom form bekisting yang terbuat dari plywood 12
mm sesuai dengan ukuran balok dipasang diatas balok
melintang.

5. Tulangan balok dipasang setelah bottom form.
6. Pemasangan side form bekisting balok.
7. Pemasangan beam braket dengan bantalanya yaitu

kayu meranti 5/7 sebagai pengaku balok.
8. Pemasangan bekisting pelat berupa modul yang sudah

dirangkai di awal.
9. Penulangan pelat dapat dipasang setelah bekisting

untuk pelat terpasang.
10. Pekerjaan pengecoran dapat dilakukan jika pekerjaan

penulangan sudah selesai.
11. Pembongkaran bekisting dapat dilakukan 7 hari setelah

pengecoran.
2. Proyek low rise building

Konsep pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung
Sekolah Anak Panah sama dengan konsep pekerjaan bekisting
semi konvensionalnya. Dari penjadwalan didapat durasi total
pekerjaan bekisting adalah 91 hari.

Biaya total pekerjaan bekisting didapat dari material beli,
material sewa dan upah. Biaya total material beli bekisting
didapat dari biaya material baru saja. Sedangkan untuk
material sewa didapat dari biaya material sewa per bulan
dikalikan durasi. Besarnya biaya pekerjaan bekisting dapat
dilihat dalam Tabel 7.

Page 4

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 D-70

Tabel 7.
Biaya pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Sekolah Anak Panah

No. Nama Biaya
1 Balok

· Material beli + upah
bongkar-pasang

Rp 153,941,907

· Material sewa Rp 549,628,400
2 Pelat

· Material beli + upah
bongkar-pasang

Rp 76,745,024

· Material sewa Rp 711,083,000
Total biaya Rp 1,491,398,330


3. Proyek High Rise Building
Konsep pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung
Hotel Ibis sama dengan konsep pekerjaan bekisting semi
konvensionalnya. Dari penjadwalan didapat durasi total
pekerjaan bekisting adalah 140 hari dengan besar biaya
ditampilkan pada Tabel 8.


Tabel 8.

Biaya pekerjaan bekisting sistem table form pada gedung Hotel Ibis

No. Nama Biaya
1 Balok

· Material beli + upah
bongkar-pasang

Rp 261,786,442

· Material sewa Rp 781,000,363
2 Pelat

· Material beli + upah
bongkar-pasang

Rp 140,221,384

· Material sewa Rp 1,022,966,000
Total biaya Rp 2,205,974,189


C. Analisa Perbandingan Antara Bekisting Semi Konvensional
Dengan Bekisting Sistem Table Form

Hasil dari perhitungan waktu dan biaya bekisting table
form dibandingkan dengan bekisting semi konvensional dalam
bentuk prosentase. Dari prosentase tersebut ditentukan nilai
masing-masing kriteria. Bekisting semi konvensional
prosentasenya adalah 0% untuk semua kriteria karena
bekisting semi konvensional dijadikan sebagai
pembandingnya. Kategori nilai untuk kriteria waktu dan biaya
disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9.
Kategori nilai kriteria 

Kriteria waktu Kriteria biaya
Nilai Prosentase Ket Nilai Prosentase Ket

1 ≥ 30% Lebih
lambat

1 ≥ 30% Lebih
mahal

2 < 30% Lebih
lambat

2 < 30% Lebih
mahal

3 0% Sama 3 0% Sama
4 < -30% Lebih

cepat
4 < -30% Lebih

murah
5 ≥ -30% Lebih

cepat
5 ≥ -30% Lebih

murah


Dari ketentuan tersebut maka akan didapatkan nilai untuk
waktu pelaksanaan dan nilai biaya pelaksanaan pada masing-

masing bekisting. Prosentase perbandingan dan nilai masing-
masing alternatif dapat dilihat dalam Tabel 10.

Tabel 10.
Prosentase perbandingan dan nilai alternatif

Gedung Kriteria Alternatif
S.konvensional Table form

Prosentase Nilai Prosentase Nilai
Sekolah

Anak Panah
Waktu 0% 3 -23.53% 4
Biaya 0% 3 58.18% 1

Hotel Ibis Waktu 0% 3 -33.65% 5
Biaya 0% 3 56.10% 1


Dalam menentukan bobot kriteria akan digunakan lima

skenario yang masing-masing akan dicari alternatif
terbaiknya. Skenario tersebut dapat dilihat dalam Tabel 11.

Tabel 11.
Skenario bobot kriteria

Skenari
o

Bobot
Waktu Biaya

1 30% 70%
2 40% 60%
3 50% 50%
4 60% 40%
5 70% 30%


Tabel 12.

Matriks evaluasi gedung Sekolah Anak Panah
Skenario 1

Kriteri
a

Bobot Alternatif
S.Konvensional Table Form

Waktu 30% 3 0.9 4 1.2
Biaya 70% 3 2.1 1 0.7

Jumlah nilai 3 1.9
Rangking 1 2

Skenario 2
Kriteri

a
Bobot Alternatif

S.Konvensional Table Form
Waktu 40% 3 1.2 4 1.6
Biaya 60% 3 1.8 1 0.6

Jumlah nilai 3 2.2
Rangking 1 2

Skenario 3
Kriteri

a
Bobot Alternatif

S.Konvensional Table Form
Waktu 50% 3 1.5 4 2
Biaya 50% 3 1.5 1 0.5

Jumlah nilai 3 2.5
Rangking 1 2

Skenario 4
Kriteri

a
Bobot Alternatif

S.Konvensional Table Form
Waktu 60% 3 1.8 4 2.4
Biaya 40% 3 1.2 1 0.4

Jumlah nilai 3 2.8
Rangking 2 1

Skenario 5
Kriteri

a
Bobot Alternatif

S.Konvensional Table Form
Waktu 70% 3 2.1 4 2.8
Biaya 30% 3 0.9 1 0.3

Jumlah nilai 3 3.1
Rangking 2 1

Similer Documents