Download Portofolio Melena ec Gastritis Erosif.doc PDF

TitlePortofolio Melena ec Gastritis Erosif.doc
File Size158.1 KB
Total Pages11
Document Text Contents
Page 6

duodenojejunum. Penyebab utama dari hematemesis ada beberapa, yakni ulkus peptikum,

gastritis erosif, sindroma Mallory Weiss, dan varises esofagus. Pada 80-90% kasus, satu dari

keempat diagnosis tersebut dapat dijumpai pada pasien dengan keluhan utama hematemesis.

Diagnosis banding lain untuk hematemesis yang lebih jarang dijumpai meliputi esofagitis,

tumor regio gastroduodenum, diatesis hemoragik, hemobilia, hemangioma, penyakit Osler,

fistula aortointestinal, oklusi arteri mesenterika, dan pseudoxantoma elastikum.

Pada melena didapatkan adanya perdarahan berupa tinja berwarna hitam kental, seperti tar,

yang disebabkan oleh etiologi yang sama dengan hematemesis, yakni ulkus peptikum, gastritis

erosif, sindroma Mallory Weiss, varises esofagus, atau tumor. Hematemesis yang berlangsung

bersama-sama dengan melena mengindikasikan adanya perdarahan yang bersumber proksimal

dari jejunum. Walaupun demikian hematemesis dapat tidak dijumpai pada perdarahan saluran

cerna bagian atas. Perlu dipertimbangkan pula perdarahan saluran cerna yang disebabkan oleh

terapi NSAID, kondisi stres pascabedah dan luka bakar, dan efek dari terapi antikoagulan.

Terdapat beberapa faktor yang terkait dengan timbulnya melena, yakni volume perdarahan

yang terjadi (>50 ml), waktu transit usus (>8 jam), serta efek sekresi asam lambung dan flora

normal usus terhadap hemoglobin. Lebih lanjut perdarahan per rektal berwarna merah segar

(hematoskezia) mengindikasikan perdarahan yang bersumber dari kolon atau usus halus bagian

distal (karena tumor, divertikulum, penyakit Crohn, kolitis ulseratif, dan angiodisplasia).

Perdarahan masif dari saluran cerna atas yang disertai dengan pemendekan waktu transit usus

juga dapat menyebabkan terjadinya hematoskezia. Sebaliknya pada perdarahan dari kolon

proksimal yang disertai pemanjangan waktu transit usus dapat menyebabkan melena. Perlu

juga diperhatikan adanya beberapa kondisi yang dapat menyerupai melena, yakni pada

pemberian suplementasi besi, preparat arang, dan konsumsi makanan tertentu (bit atau

blueberry) dalam jumlah besar.

Dalam kasus perdarahan saluran cerna, modalitas endoskopi digunakan untuk menentukan

etiologi sehingga dapat dipilih terapi definitifnya. Umumnya dilakukan

esofagogastroduodenoskopi yang dilanjutkan dengan kolonoskopi jika diperlukan. Angiografi

dapat digunakan untuk mendeteksi perdarahan saluran cerna, namun terbatas pada kasus

perdarahan terus-menerus dengan volume 0,5-2,0 ml/menit. Lesi di usus halus, terutama lesi

tumor, tergolong sulit untuk dideteksi. Pada kasus perdarahan intestinal dengan hasil endoskopi

negatif, perlu dipertimbangkan adanya tumor intestinal (schwannoma, leiomioma, limfoma

maligna, karsinoma). Modalitas pencitraan lain yang dapat digunakan adalah radiografi dengan

foto polos abdomen, CT scan, MRI, atau endoskopi kapsul dan double balloon enteroscopy.

Melena adalah buang air besar berwarna hitam seperti ter yang berasal dari saluran cerna

6

Page 10

melena. Secara klinis ditentukan sumber perdarahan diperkirakan berasal dari gastritis erosif.

Walaupun demikian masih terdapat kemungkinan ruptur varises esofagus. Maka itu sembari

menunggu dilakukannya endoskopi, dilakukan pemberian terapi empirik seperti yang sudah

dituliskan di atas. Terapi cairan untuk ekspansi volume intravaskular dilakukan dengan

pemberian normosalin NaCl 0,9%. Masing-masing diberikan sebanyak 500 ml tiap 8 jam. NaCl

0,9% merupakan normosalin kristaloid yang ditujukan untuk meningkatkan volume cairan

intravaskular. Dalam kaitan dengan pencegahan syok hipovolemik dan kondisi hipervolemia,

pada pasien sebaiknya dilakukan juga monitoring tanda-tanda vital, produksi urin (balans

cairan), dan pengukuran hematokrit serial apabila memungkinkan.

Sembari memberikan terapi cairan inisial dilakukan pula pengukuran kadar Hb. Sesuai

dengan perdarahan yang terjadi, kondisi klinis pasien, serta kadar Hb pasien, dilakukan pula

transfusi darah hingga dicapai target Hb 10 g/dl pada kasus ruptur varises atau 12 g/dl pada

kasus non ruptur varises. Pasca transfusi dilakukan kembali pengukuran kadar Hb untuk menilai

apakah perlu transfusi PRC lanjutan atau tidak. Dalam Harrison disebutkan bahwa pemberian

PRC dilakukan untuk menjaga hematokrit dalam rentang 25-30%. Pada kasus perdarahan

dengan transfusi yang masif dapat terjadi trombositopenia. Jika terjadi kondisi koagulopati

tersebut dapat dilakukan pemberian FFP atau TC. Pada pasien dengan sirosis hepar juga perlu

ditambahkan vitamin K 10 mg secara SC atau IV. Apabila terjadi penurunan kadar kalsium

darah (akibat transfusi masif darah yang mengandung sitrat sebagai antikoagulan) dapat

dilakukan pemberian kalsium IV dengan sediaan kalsium glukonas 10% IV sebanyak 10-20 ml

dalam 10-15 menit.

Apabila endoskopi belum dilakukan terapi dapat dilakukan secara empirik, walaupun dalam

Harrison disebutkan bahwa pemberian antasida, penghambat reseptor H2, dan PPI secara

empirik belum terbukti bermanfaat. Algoritma terapi dalam Harrison menyebutkan bahwa

endoskopi dilakukan terlebih dahulu sebelum memulai terapi agar terapi definitif dapat dimulai

segera. Oleh karena secara klinis masih dipikirkan bahwa perdarahan saluran cerna berasal dari

gastritis erosif (penyebab non varises), terapi yang diberikan mencakup omeprazole

(penghambat pompa proton), sukralfat (sitoprotektor), dan vitamin K (pada pasien dengan

penyakit hepar kronis atau sirosis hepar).

Pantoprazole tergolong dalam penghambat pompa proton. Obat ini tersedia dalam bentuk

tablet bersalut dan sediaan injeksi IV (dapat diberikan baik secara bolus maupun drip).

Pantoprazole menghambat produksi HCl dengan cara memblokade kerja pompa proton di

lambung. Pemberian pantoprazole diindikasikan pada kasus penyakit ulkus gaster dan peptik,

sindroma dispepsia tanpa ulkus, dan untuk pencegahan perdarahan mukosa saluran cerna yang

10

Similer Documents