Download Tugas Rumple Leed PDF

TitleTugas Rumple Leed
File Size246.2 KB
Total Pages5
Document Text Contents
Page 2

2


yang akhirnya membentuk cross linked fibrin. Proses ini jika dilihat secara skematik tampak

sebagai suatu air terjun (waterfall) atau sebagai suatu tangga(cascade).(Rafsan,2012)

Jadi dalam proses hemosatasis terjadi 3 reaksi yaitu reaksi vascular berupa vasokontriksi

pembuluh darah, reaksi selular yaitu pembentukan sumbat trombosit, dan reaksi biokimiawi yaitu

pembentukan fibrin. Faktor-faktor yang memegang peranan dalam proses hemostasis adalah

pembuluh darah, trombosit, dan faktor pembekuan darah. Selain itu faktor lain yang juga

mempengaruhi hemostasis adalah faktor ekstravascular, yaitu jaringan ikat disekitar pembuluh

darah dan keadaan otot.(Anonim,2012)

Pendarahan mungkin diakibatkan oleh kelainan pembuluh darah, trombosit, ataupun sistem

pembekuan darah. Bila gejala perdarahan merupakan kalainan bawaan, hampir selalu

penyebabnya adalah salah satu dari ketiga faktor tersebut diatas kecuali penyakit Von Willebrand.

Sedangkan pada kelainan perdarahan yang didapat, penyebabnya mungkin bersifat multipel. Oleh

karena itu pemeriksaan penyaring hemostasis harus meliputi pemeriksaan vasculer, treombosit,

dan koagulasi. (Anonim,2012)

Proses koagulasi dapat dimulai melalui dua jalur, yaitu jalur ekstrinsik (extrinsic pathway)

dan jalur intrinsik (intrinsic pathway). Jalur ekstrinsik dimulai jika terjadi kerusakan vaskuler

sehingga faktor jaringan (tissue factor) mengalami pemaparan terhadap komponen darah dalam

sirkulasi. Faktor jaringan dengan bantuan kalsium menyebabkan aktivasi faktor VII menjadi

FVIIa. Kompleks FVIIa, tissue factor dan kalsium (disebut sebagai extrinsic tenase complex)

mengaktifkan faktor X menjadi FXa dan faktor IX menjadi FIXa. Jalur ekstrinsik berlangsung

pendek karena dihambat oleh tissue factor pathway inhibitor (TFPI). Jadi jalur ekstrinsik hanya

memulai proses koagulasi, begitu terbentuk sedikit thrombin, maka thrombin akan mengaktifkan

faktor IX menjadi FIXa lebih lanjut, sehingga proses koagulasi dilanjutkan oleh jalur intrinsik.

Jalur intrinsik dimulai dengan adanya contact activation yang melibatkan faktor XII, prekalikrein

dan high molecular weigth kinninogen (HMWK) yang kemudian mengaktifkan faktor IX menjadi

FIXa. Akhir-akhir ini peran faktor XII, HMWK dan prekalikrein dalam proses koagulasi

dipertanyakan. Proses selanjutnya adalah pembentukan intrinsic tenase complex yang melibatkan

FIXa, FVIIIa, posfolipid dari PF3 (trombosit factor 3) dan kalsium. Intrinsic tenase complex akan

mengaktifkan faktor X menjadi FXa. Langkah berikutnya adalah pembentukan kompleks yang

terdiri dari FXa, FVa, posfolipid dari PF3 serta kalsium yang disebut sebagai prothrombinase

complex yang mengubah prothrombin menjadi thrombin yang selanjutnya memecah fibrinogen

menjadi fibrin. (Rafsan,2012)

Pemeriksaan faal hemosatasis adalah suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk mengetahui

faal hemostatis serta kelainan yang terjadi. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari riwayat

perdarahan abnormal, mencari kelainan yang mengganggu faal hemostatis, riwayat pemakaian

obat, riwayat perdarahan dalam keluarga. Pemeriksaan faal hemostatis sangat penting dalam

mendiagnosis diatesis hemoragik. Biasanya pemeriksaan hemostasis dilakukan sebelum operasi.

Beberapa klinisi membutuhkan pemerikasaan hemostasis untuk semua penderita pre operasi,

tetapi ada juga membatasi hanya pada penderita dengan gangguan hemostasis. Yang paling

penting adalah anamnesis riwayat perdarahan. Walaupun hasil pemeriksaan penyaring normal,

Page 3

3


pemeriksaan hemostasis yang lengkap perlu dikerjakan jika ada riwayat perdarahan.

(Anonim,2012)

Pemeriksaan ini terdiri atas:

A. Tes penyaring meliputi :

 Percobaan pembendungan

 Masa perdarahan

 Hitung trombosit

 Masa protombin plasma (Prothrombin Time, PT)

 Masa tromboplastin partial teraktivasi (Activated partial thromboplastin time, APTT)

 Masa trombin (Thrombin time, TT)

B. Tes khusus meliputi :

 Tes faal trombosit

 Tes Ristocetin

 Pengukuran faktor spesifik (faktor pembekuan)

 Pengukuran alpha-2 antiplasmin



4.2 Percobaan Pembendungan (Rumple Leed Test)

Rumple leede test (percobaan lpembendungan) dimaksudkan untuk menguji ketahanan

kapiler darah menggunakan pembendungan pada vena sehingga darah akan menekan dinding

kapiler. Jika dinding kapiler kurang kuat ,maka darah dari kapiler keluar dan merembes dalam

jaringan sekitarnya sehingga tampak bercak petechiae. (Gandosoebrata,1969)

Petechiae adalah bintik-bintik merah akibat perdarahan didalam kulit,warna terkadang

bervariasi dari merah menjadi biru/ungu. Petechiae umumnya muncul pada kaki bagian bawah

tetapi bisa muncul diseluruh tubuh. Petechiae mungkin terlihat pada pasien-pasien dengan jumlah

platelet yang sangat rendah. Petechiae terjadi kerena perdarahan keluar dan pembuluh – pembuluh

darah yang kecil sekali di bawah kulit atau selaput lendir,petechiae umumnya tidak jelas dan

menyakitkan. (Arifin,2012)

Pemeriksaan dilakukan dengan menahan tekanan manset atau tensi sebesar setengah dari

jumlah tekanan sistol dan tekanan diastol. Sistole adalah bunyi yang pertama terdengar, diastole

adalah bunyi yang menghilang diantara bunyi yang berdetak cepat, atau dapat pula dikatakan

bunyi yang terakhir didengar. Kemudian

tekanan manset tersebut dipertahankan selama sepuluh menit. (Anonim,2011)

Pembendungan dilakukan pada lengan atas dengan memasang tensimeter pada pertengahan

antara tekanan sistolik dan tekanan diastolik. Tekanan itu dipertahankan selama 10 menit. Jika

percobaan ini dilakukan sebagai lanjutan masa perdarahan, cukup dipertahankan selama 5 menit.

Setelah waktunya tercapai bendungan dilepaskan dan ditunggu sampai tanda-tanda stasis darah

lenyap. Kemudian diperiksa adanya petekia di kulit lengan bawah bagian voler, pada daerah garis

tengah 5 cm kira-kira 4 cm dari lipat siku.(Anonim,2012)

Page 4

4


Pemeriksaan dinyatakan positif bila ditemukan perdarahan atau petechiae sebanyak 10 buah

dalam waktu 10 menit. Pemerikssan dinyatakan negatif bila dalam waktu 10 menit tidak timbul

petechiae pada area pembacaan, atau timbul petechiae kurang dari 10 buah.(Anonim,2012)

Jika pada waktu dilakukan pemeriksaan masa perdarahan sudah terjadi petekie, berarti

percobaan pembendungan sudah positif hasilnya dan tidak perlu dilakukan sendiri. Pada penderita

yang telah terjadi purpura secara spontan, percobaan ini juga tidak perlu dilakukan.

(Anonim,2012)

Kesalahan sering terjadi saat pemeriksaan, kesalahan tersebut antara lain saat membuat

daerah pengamatan. lingkaran ini harus dibuat, diukur dengan benar, sekian jari dari fossa cubiti,

dengan diameter penampang sebesar 5 cm menggunakan penggaris. Selain itu, bila dalam waktu

kurang dari 10 menit sudah tampak lebih dari 10 buah petechiae, maka percobaan dihentikan. Bila

setelah 10 menit tidak timbul peteciae, percobaan dihentikan dan tunggu selama 5 menit. Bila tak

ada perubahan penilaiaannya negatif. Sebelum percobaan dihentikan apakah ada bekas gigitan

nyamuk pada daerah pembacaan, yang mungkin menyebabkan hasil menjadi positif

palsu. (Anonim,2011)

Bila hasil pemeriksaan dinyatakan positif, orang yang diperiksa kemungkinan terjadi

gangguan vaskuler maupun trombolik. Adanya gangguan ini dapat menimbulkan penyakit atau

keluhan tertentu, antara lain penyakit arteri koroner yang berat, gumpalan kecil dari trombosit bisa

menyumbat arteri yang sebelumnya telah menyempit dan memutuskan aliran darah ke jantung,

sehingga terjadi serangan jantung. Keluhan lain yaitu, mudahnya timbul memar pada kulit.

Seseorang bisa mudah memar karena kapiler yang rapuh di dalam kulit. Setiap pembuluh darah

kecil ini robek maka sejumlah kecil darah akan merembes dan menimbulkan bintik-bintik merah

di kulit (peteki) atau cemar ungu kebiruan (purpura). (Anonim,2011)

Faktor yang mempengaruhi Rumple leede test (Arifin,2012) :

1. Perempuan yang menstruasi

2. Post menstrual dengan sedikit hormone

3. Kulit rusak karena akan meningkatkan kerapuhan kapiler.



Walaupun percobaan pembendungan ini dimaksudkan untuk mengukur ketahanan kapiler,

hasil tes ini ikut dipengaruhi juga oleh jumlah dan fungsi trombosit. Trombositopenia sendiri

dapat menyebabkan percobaan ini berhasil positif.





IV. Alat dan Bahan

a. Sfigmomanometer

b. Stopwatch

c. Alat tulis



V. Langkah Kerja

1. Alat dan bahan disiapkan

Similer Documents